Sunday, March 13

KHILAF




Ada banyak cerita yang tidak pernah cukup disampaikan hanya dengan untaian kata

Ada banyak bahagia yang tidak akan bisa di artikan oleh senyum dan tawa

Ada banyak duka yang tidak bisa dijelaskan oleh berapa banyak butiran air mata

Ada banyak doa yang terpanjatkan

Ada banyak harapan

Ada banyak kecewa

Ada banyak dosa...........

Ada banyak....

Banyak.......

Banyak.......

Banyak....... ampunan-NYA, kasih-NYA, pemberian-NYA, rahmat-NYA yang lebih tidak terhitung dari semua yang dapat dihitung, kecuali dengan hitungan-NYA.......



Wednesday, May 1

Sebuah Laci Dalam Imajinasi




Ini adalah suapan brownis ku yang terakhir, kemudian aku raih kuping cangkir di depanku dan aku teguk black coffee kesukaanku di dalamnya. Entah apa yang aku fikirkan, ketika keduanya bertemu di dalam mulutku, otak ku seperti menciptakan imajinasi yang baru, yang membawa jiwaku ke suatu tempat yang mengasyikan. Tempat yang aku beri nama kesendirian.

Tapi kali ini aku tidak akan menceritakan bagaimana imajinasiku yang aneh dalam kesendirian itu, ini bukan tentang imajinasiku, ini tentang wanita yang duduk di depan ku. Selama bertahun-tahun aku ke coffee shop ini, baru kali ini aku melihat sosok cantik ini. Rambutnya sebahu, dengan poni tipis menutupi dahinya. Pakaiannya rapih dan sangat tertata, siapapun yang melihatnya mustahil tidak jatuh cinta, paling tidak itu yang kini aku rasa..

Satu persatu pertanyaan datang dan mengetuk kepalaku, tapi aku hanya membuka pintu dan  menyambut mereka dengan senyum, aku sangat sadar aku lelaki normal tapi aku tidak akan segila lelaki agresif di luar sana yang dengan mudah menyapa siapapun wanita yang mereka suka. Aku hanya ingin menikmatinya sendiri saja, dengan pertanyaan-pertanyaan yang masih bergulat di kepalaku, sekali lagi aku yakinkan diriku aku hanya ingin menikmati pemandangan cantik ini sendiri saja, di sini, di meja nomer.. sebentar aku check dulu nomer meja ini... oke aku duduk di meja nomer 12. 


30 Menit berlalu, aku masih sendiri di meja nomer 12, tidak begitu sendiri paling tidak ada secangkir black coffee-ku dan notebook bu yang ku biarkan terbuka. Aku melihatnya sesekali, ya masih wanita cantik ini, terlalu naif jika dikatakan sesekali , yeah ku akui mungkin hampir pandanganku tidak bisa berpaling dari wajah cantiknya. Kalau dia tahu bagaimana pesonanya mencuri pandanganku, demi Tuhan aku akan mengutuk diriku selama-lamanya, entah bagaimana rupanya mimik wajahku jika si cantik ini memergoki ku melihatnya dengan wajahku yang penuh sukacita, sejuta rasa cinta seorang manusia.


***

Kemudian, aku ambil notebook ku, dan aku mulai tumpahkan semua yang ada di kepalaku dalam tulisan ini, 10 menit aku asyik mengetik kulihat tiada lagi si cantik berambut sebahu dengan poni tipis menutup dahinya di depan mejaku di coffee shop ini..
Aku menghela nafas..
Kini, aku kehilangannya..

Lalu aku tersenyum..
Tapi kurasa tidak, Aku tidak kehilangannya sama sekali..
Tidak di dalam kepalaku, dia masih duduk  manis di salah satu ruang laci memori dalam ingatanku..
Aku teguk coffee black ku yang tersisa ini, aku berdiri, dan aku pergi..

-selesai-


Saturday, May 12

Kami

Umurku kini 17 tahun, mereka bilang aku ini sudah cukup umur untuk dikatakan dewasa. Dewasa atau tidak, aku tidak peduli, bagiku tidak ada bedanya ketika aku masih kecil atau dewasa, aku rasa ketika aku tua pun aku tidak terpengaruh berapa angka digit umurku. Tahukah kalian? Percaya atau tidak, aku tidak pernah merasa sedih selama hidupku, aku tidak pernah merasa sakit, dan apalah itu mereka menyebutnya "kecewa"? Aku sering dengar tapi tidak tahu apa arti sebenarnya. Aku sepertinya hidup tidak untuk belajar dan diajarkan bagaimana rasanya sakit, tidak tahu bagaimana caranya berdiri setelah dijatuhkan, apa artinya penyesalan dan harus bangkit setelahnya, dan bagaimana caranya melanjutkan hidup setelah merasa hancur. Senang tidak senang, aku ini ya seperti ini.

Pada hakikatnya, semua makhluk akan mati. Aku sadar aku juga akan mati, tapi kapan aku mati itu adalah persoalan waktu. Aku hanya tinggal menunggu waktunya tiba. Tapi aku senang sekali, dalam hidupku aku tidak pernah merasa gelisah, gundah, sedih, bahkan karena terlalu kaya kebahagiaan, kekayaanku ini aku berikan untuk orang lain, untuk mereka agar mereka bahagia, dan terus tersenyum menjalani hidup. Yeah.. paling tidak aku merasa demikian.

Dua minggu yang lalu aku berkenalan dengan temanku, dia juga sangat bersemangat, lebih muda dariku 5 tahun tapi semangatnya 2 kali lipat dari umurnya, malangnya kemarin aku dengar dia mati, tepat ketika ada seorang bernama Rani (kalau tidak salah), merayakan pesta pernikahannya. Kasihan, konon katanya dia lahir ketika seseorang bernama Jaka jatuh cinta kepada Rani, yang aku dengar Jaka sangat mencintai Rani sampai ia ingin menikahi Rani menjadi istrinya. 12 tahun Jaka menyimpan cintanya tanpa berbuat apa-apa, (atau entahlah apa yang sudah Jaka lakukan untuk Rani), hingga akhirnya Rani kemarin melangsungkan pesta pernikahannya dengan Hari, suaminya.
Bukan dengan Jaka, yang menyimpan cintanya selama 12 tahun.

Ya.. namaku Harapan,,
Kami terlahir memang untuk menyemangati orang lain agar tetap hidup.
Selama hidup, kami tidak pernah merasa sakit, apalagi kecewa.
Karena ketika kecewa, berarti kami mati.
Ketika kami mati, terlahirlah kami-kami yang baru sampai seseorang menghancurkan kami dengan kecewa kemudian kami mati, dan yang kemudian terlahir lagi kami-kami yang baru, begitu seterusnya.
Bagaimanapun kehidupan kami, kami terlahir dari orang-orang yang bahagia.
Orang-orang yang mencintai hidupnya.
Kadang kami berfikir..
Ada berapa banyaknya kami (Harapan) yang dilahirkan hanya untuk orang lain hancurkan..

Saturday, May 5

Konsekuensi dan Konsentrasi

hai, selamat siang..
hari ini gue memutuskan untuk membuat satu label baru di blog gue ini (it's me dira) yang isinya tentang curahan hati (ya mungkin semua cerita  di blog ini curahan hati juga sih) tapi kali ini isinya beda, gak lagi-lagi masalah cinta, atau kebanyakan cerita 'ngayal', lebih tepatnya ini cerita sedikit tentang ehm.. gue sehari-hari *nyengir*.

Di cerita pribadi pertama gue ini, gue mau cerita sedikit tentang konsekuensi.
Konsekuensi.. lihat mata saya.. kemudian tertidurlah...
oh bukan, bukan.. itu konsentrasi, plis maaf banget ini jayus abis -___-
Tapi menurut gue, Konsekuensi itu perlu. Konsentrasi itu dibutuhkan dalam hal memenuhi konsekuensi kita yang dimana konsentrasi adalah... *pusing*.
Guys, maksudnya gini.. simpelnya kalo elo udah ada janji, lo harus menepati janji lo, dan untuk menepati janji lo itu, lo butuh konsentrasi. Asli konsentrasi penting banget untuk menuhin janji lo. Kemudian apa hubungannya konsentrasi ini sama gue?..
Gue juga gak tahu..*gubrak*

Enggak deh, gue mau cerita, hari ini gue lagi butuh konsentrasi luar biasa untuk nyiapin bahan akuntansi 2 untuk presentasi nanti sore. Cerita sedikit, gue hobi banget tampil *ehm*, gue pengen banget tampil di depan orang-orang dan satu ruangan tepuk tangan setelah gue melakukan sesuatu hal di hadapan mereka. Gue mikir gue bakal nyanyi, tapi gue mikir lagi, alam bawah sadar gue tiba-tiba mengingatkan, gimana gue mau nyanyi di depan orang banyak, setiap gue karaokean sama temen-temen aja, pas giliran gue nyanyi, bukannya mereka duduk asik malah pada pamit pulang duluan sambil ngesot dan tutup kuping dan teriak-teriak "Tolong akuuu...!!!". Ok gue putusin dari sejak saat itu gue mengundurkan diri dari mimpi gue sebagai Diva Indonesia.

Kembali ke cerita gue, dari semenjak kuliah gue sempet jadi Assdos, Aku Sangat Sangat Dongo Sekali, bukan. Walopun gue suka dikatain BIONGO (Kasta tertinggi dari dongo alias dongo akut sangat parah sekali pisan) sama temen-temen kuliah gue dulu gara-gara suka niruin gaya vokalisnya limp bizkit lagi joget yang hasilnya lebih mirip sama gajah ngondek dan sekaligus niruin gayanya mpok nori lagi marah sampe urat lehernya keliatan pake logat betawi nya. Guys, menurut gue gak ada yang salah sama mpok nori, dia cool banget, asli gue ngeFans banget sama dia dan pasangan malih-bolot. Oke balik lagi, jadi gini gue sempet jadi Assdos, Assisten Dosen. Gimana bisa gue jadi assdos waktu itu, gue pun gak ngerti, hanya Tuhan dan rumput yang bergoyang yang tahu jawabnya, intinya setelah gue jadi assdos dan terbiasa presentasi di depan kelas, gue mulai jatuh cinta sama pekerjaan ini dan merasa ini adalah passion gue, dan setelah lulus kuliah, lulus juga gue jadi assdos alias pensiun.

Sekarang gue udah kerja di pemerintahan dan gue iseng (lebih tepatnya nekat) daftar jadi staf pengajar di salah satu Sekolah Tinggi. Dengan berbekal seada-adanya, singkat cerita gue diterima di Sekolah Tinggi tsb sebagai dosen tidak tetap (mengingat gue masih S1), dan dengan catatan dari yayasan Sekolah Tinggi tsb gue harus menyegerakan menempuh S2 dalam waktu dekat.

Gue ngajar after work, biasanya sore atau malam setelah gue pulang kerja. Yang beda dari jadwal -jadwal gue ngajar sebelumnya ini adalah waktu pemilihan jadwal kemarin entah setan apa yang merasuki jiwa dan raga gue waktu itu, gue ditawarin jadwal ngajar kelas eksekutif yaitu hari Sabtu sore. Dan ironisnya gue meng-Iyakan. Hari ini hari Sabtu, hari dimana gue harus ngajar sorenya, dan prepare bahan ngajar di siangnya. Kelihatannya simpel, tapi gak simpel ketika elo harus melakukannya di hari SABTU yang harusnya elo lagi menikmati libur weekend lo dengan bangun jam 12 siang dan mandi lulur rempah susu dicampur 7 kembang dan nonton film terbaru di XXI sama pacar malemnya. *nangis*

Guys, intinya gue harus konsentrasi untuk memenuhi konsekuensi terhadap janji gue ini, dan gue menyebutnya tanggung jawab. Banyak orang (termasuk gue) yang mungkin sangat gampang mengucapkan janji, tapi tidak bisa konsentrasi untuk memenuhi nya. Konsentrasi itu sulit kalau diri kita dikuasai oleh setan. Kemudian setan menjawab : "Kenapa gue yang disalahin?". Iya, kata orang tua dulu malas itu temannya setan, menurut gue kalau kita gak sanggup konsentrasi berarti kita malas, dan malas temannya setan. Kemudian setan menjawab : "Oke gue setuju!". Kemudian kita toss.

Ini adalah bagian kecil dari pentingnya konsentrasi dalam hal memenuhi konsekuensi kita terhadap janji. Konon katanya sebelum ruh kita ditiupkan ke dalam jasad kita yang ada di kandungan ibu, kita pernah berjanji kepada Yang Maha Pencipta, ketika kita dilahirkan kita akan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dan ternyata tidak mudah konsentrasi di dunia ini, entah kilauan dunia yang membuat kita silau dan akhirnya malas ber-konsentrasi. Atau memang kita lupa bahwa hidup ini adalah tempat yang sangat sementara, tempat kita berkonsentrasi untuk mengumpulkan bekal di dunia kekal nanti.

Saturday, March 17

Apa Kabar, Sayang?



Untuk Bintang, Tersayang..
Sayang, apa kabar? 
Aku disini tidak baik, aku lelah mengusir rindu yang selalu datang kapanpun mereka mau.
Aku lupa dimana aku simpan nama mu di dalam jasad ku, hingga setiap ruh ku kembali kepangkuan jasadku tiap pagi, kembali namamu menyerengai otakku dan mengalir ke seluruh tubuhku melalui aliran darahku. Tidak berhenti disitu. Ketika malam datang aku benci harus melihat wajahmu di dinding-dinding kamarku dulu sebelum ruh ku sempat Tuhan genggam semalam suntuk dan mengembalikannya lagi ke jasadku keesokan paginya. 

Bintang Sayang, 
Apa kabar?
Bisakah datang sebentar, sebentar saja untuk membunuh rindu yang sedang menggerogoti jiwaku.

Tertanda,
Nani

***

Untuk Nani, Perempuanku..
Sayang, maafkan aku yang tidak bersama mu saat ini. Tapi Tuhan mendengarkan doaku. Maafkan aku. Aku yang meminta-NYA untuk selalu menjagamu dan selalu menaruh namaku di hatimu. Apalagi yang bisa aku lakukan selain meminta-NYA. Biarlah hanya DIA Maha Pendengar curahan hatiku, rinduku, sakitku.

Perempuanku,
Tidakkah kau melihat Bulan tersenyum melihatmu di kala malam? Mengerti kah kau apa maksud sinar bulan yang kau lihat ketika malam? Sinarnya mencoba memberitahumu, bahwa bukan hanya kamu yang sedang melihatnya, tapi juga aku. Ya, aku sedang melihat bulan dengan sepenuh hatiku yang rindu dan berharap sang rembulan akan menyampaikan hal itu kepadamu. Sayang, mengertikah? 

Perempuanku, 
Aku ingat sekali genggaman tanganmu yang kuat melepas kepergianku waktu itu, aku harap hatimu juga sama kuat dengan genggamanmu, Sayang.Aku berjanji demi Tuhan Yang Menyatukan aku dan kamu, suatu saat kau akan menggengamku lagi sekuat itu, saat kita berjalan di merahnya altar perkawinan kita nanti...

Yang selalu di hatimu,
Bintang
***


"Ini untukmu.." kataku.
"Buku apa ini?.." tanya Bintang.
"Kamu baca saja, isi nya sih biasa yang membuatnya istimewa itu isi ceritanya, tentang kamu.." Aku tersenyum.

Itu adalah 10 tahun yang lalu dibelakang halaman sekolahku. Aku masih duduk di bangku SMA, tingkat satu waktu itu dan Bintang senior 2 tingkat diatasku. Kami sepasang kekasih yang sempat terpisah jarak dan waktu selama hampir 9 tahun. Bintang harus meneruskan sekolahnya di belahan dunia lain. Dan aku setia menunggunya di bumi ibu pertiwi. 
***

"Mama.. ini foto siapa..?
"Ini mama dan papa sebelum kamu lahir, Nak.."
"Lelaki yang sendiri ini siapa?" kata anakku mengambil foto lainnya.
" Itu dia teman mama. almarhum teman dekat mama dulu, sayang. Orangnya baik sekali, pintar, cerdas, namanya... Bintang."

Aku meraih foto dari tangan anakku, aku menatapnya sejenak. 
"Bintang, apa kabar sayang?
 terima kasih telah mengajariku apa artinya cinta yang sebenarnya. Titip salamku untuk Tuhan yang selama ini menjadi tempat curahan hatimu tentang ku".

--Selesai--



Tuesday, March 13

Aku Yang (takut) Berdoa

Ada kalanya ketika mereka berlomba-lomba meminta yang terbaik kepada Tuhan..
Aku merasa sebaliknya..
Aku takut meminta yang terbaik untuk ku..

Tuhan.. maafkan hamba..
Bukan hamba jengah berdoa, dan memalingkan wajah ini dari keberadaan-MU...
Bukan itu, Tuhan..
Juga tidak karena hamba angkuh di atas bumi yang nyaris tiada diantara alam raya-MU..
Tidak, Tuhan.. hamba tidak seterkutuk itu. 

Ketika bibir mengucap ;
"Tuhan.. tunjukan lah yang terbaik dan jauhkan lah yang buruk bagi ku menurutkMU.."
Seketika itu aku takut, sangat takut, benar-benar takut..

Jika di Mata-NYA lagi-lagi kamu yang selama ini disini..
dan seketika Tuhan membuat mu pergi..
karena permintaan ku yang tidak menahu apa-apa dari doa-ku.

***

"Seandainya hamba bisa melihat wajah-MU dulu sejenak tepat sebelum hamba melangkah maju.."

 

Wednesday, November 30

celoteh sore

Aku sering bertemu mereka yang mengaku bernama cinta
walaupun akhirnya aku tahu mereka berbohong, 
nama mereka bukan cinta, tapi luka..
Aku juga pernah berkenalan dengan kasmaran,
tapi sayang umurnya tidak panjang dan mati sebagai kenangan..

Tuesday, November 29

Kepada kenyataan, semoga lebih indah dari harapan 

Tertanda ,
Aku, yang hidup dalam ketakutan

-dira rizkia-

Thursday, November 17

Ketika aku kembali, masih adakah tempat yang tersisa lagi?

Sebenarnya Aku malu, setelah sekian lama Aku tidak menyapa, lalu tetiba Aku datang seperti orang ingin menagih utang, tidak punya dosa. Tapi Aku lebih merasa berdosa lagi jika tidak bertemu Dia. Bagaimanapun Aku sudah berulang kali mengecewakannya, namun tiap kali Aku datang, Dia selalu senang. Itu yang membuatku lagi-lagi berani menggerakan kaki....

"Hai..", sapaku membuka pembicaraan.
Dia diam, sambil melihatku tenang, seperti Dia memang sudah tahu untuk apa tujuanku datang.

"Aku kesini untuk... Aku ini.." Kata-kata yang sudah ku rangkai di perjalanan tiba-tiba tenggelam dalam ketenangannya yang begitu tenang. Dan inilah alasan lain mengapa aku selalu kembali, aku merasa nyaman.

"Aku minta maaf.. maksudnya, aku mohon maaf.. selama ini sempat melupakan Mu" Pelan-pelan aku kembali menemukan kata-kata yang tadi sempat hilang.

"Aku.. Dadaku sesak.. terlalu banyak yang datang ke sini, kemudian turun kemari.."
Sambil menunjuk kepalaku kemudian dadaku.

"Aku.. aku fikir aku bisa sendiri, aku fikir aku mampu tanpa bantuan Mu, aku.. aku.."
Air mataku pecah, dadaku semakin sesak, sambil mengatur kembali intonasi dengan segala kemampuan yang ku miliki, aku mulai lagi berbicara.

"Aku,.. seperti yang Kau tahu sempat pernah tinggal lama dalam sebuah ketidakpastian, keterpurukan. 
Aku pernah hidup dengan sisa-sisa harapan keajaiban. 
Aku pernah hanya berjalan tanpa melihat apa yang aku temukan dalam perjalanan, dan hanya terus berjalan. 
Dan dengan selalu.. Maaf.. mengingat Mu waktu itu. 
Iya, sekali lagi maaf..
Aku mengingatmu, hanya mengingatmu ketika aku payah.
Tidak tahu lagi siapa yang ingin aku datangi..
Tapi tolong jangan salahkan Aku, Engkau memiliki ketenangan itu, yang aku tidak dapat temui selain disini. 
Di dekat Mu.." 
Alih-alih marah Dia malah tersenyum.

"Bolehkah Aku memelukMu?"
Kemudian Dia menghampiri, seketika ribuan pecahan kaca yang berdesakan memenuhi setiap sisi rongga hati lenyap, nyaris aku seperti tidak punya kepala, badanku sangat ringan, hampir-hampir terbang. Airmata ku kini seperti tidak punya aturan, aku sudah tidak peduli lagi, biarkan mereka menari kesana-kemari, aku tidak peduli. Dan ini adalah perasaan yang aku sendiri tidak mengerti.

"Maaf jika aku lancang, apa jadinya jika aku tidak dilahirkan? 
Dunia, kenyataan, cobaan, kebahagiaan, kesedihan.. aku tidak bisa berteman dengan mereka. 
Apa aku, kami, kita, hidup memang hanya untuk dipermainkan oleh pilihan-pilihan yang tidak sedikit hanya berujung penyesalan? 
Aku tidak mengerti mengapa manusia hidup dalam kesia-siaan, dan mati dalam penyesalan. Sebagian lainnya tidak pernah peduli kalaupun besok akan mati, mereka hanya tertawa dan bahagia seakan-akan dunia ini selamanya." 
Kini kulihat wajahnya tidak seramah tadi,  tidak juga murka, hanya saja tidak tersenyum seperti tadi. Aku mengerti Dia sangat tidak menyukai ini, serta merta aku kembali menarik kata-kataku lagi.

"Maaf.. iya maaf, memang mereka bukan urusanku.. aku tidak patut menilai siapapun, mohon maafkan.."
Terdiam lama. Sangat lama.. dan aku kembali mengutarakan kata yang masih tersisa..

"Ini,  Aku sangat mencintaiMu, Tidak ada yang mampu membahasakan bagaimana cintaKu kepadaMu.. mungkin Kau lebih mengetahui itu.. Aku ingin selalu bersamaMu, Aku tidak ingin siapapun kecuali Kau.. "

***

"knock..knock.. Putri..??" dari balik pintu, itu suara ibu.
"Iya bu..?" sahutku sambil membersihkan wajah yang basah dengan selimut seadanya.
"Kamu, bicara dengan siapa sayang?"
"Enggak bu, Aku.. hm Aku.. anu.." aku buntu, keberadaan Ibu yang tiba-tiba membuatku mati gaya.
"Aku.. aku hanya sedang berdoa, Bu" yah mungkin ini sangat membantu, aku fikir tidak ada yang aneh dengan jawabanku.
"Aku bicara dengan Tuhan tadi bu.." kataku melengkapi, yang ini keluar dari hati.
Ibu tersenyum, dan kami berdua tersenyum, dalam hati aku berbisik  
"Diantara kenyataan yang memuakan, dia adalah kenyataan paling indah yang aku dapatkan. Tuhan, aku lupa mengucapkan terima kasih Engkau telah ciptakan wanita ini."

***

Selesai.

Wednesday, November 16

How bad / good it is

*How bad / good it is..
*You easily said "I'll fight", when your heart actually says "I am not that taft".

*You are smiling in a good way, when your eyes work so hard not to tearing.

*You push your mind keep running, when you know you might be killed.

*You said "Yes, i am sure", when your eyes suddenly tell you "Everything dissappeared".

*You see His / Her eyes said "I am here to believe", when practically life would be easier if you leave.


Dont care how bad / good it is..
I love you, now and then.

Monday, November 7

cinta bukannya buta, sebenarnya dia sedang memejamkan mata, berdoa agar tidak lagi ditolak realita..

- dira rizkia -

Friday, November 4

Apa rasanya kalau diam-diam..

Apa rasanya kalau seseorang diam-diam memotret kamu dari kejauhan?
marah?..
jengkel?..
kesal?..
sebal?..
atau..
mungkin tidak peduli?..
Tapi bagaimana rasanya kalau seseorang itu seseorang juga di hati kamu?
iya di hati kamu..
* * * *




kalau saya?...
saya senang sekaliiiii... :) :) :)
thank you love @nicearsy

* * * *

Sunday, October 30

aku,kamu, egoku

di dada ini..
tolong bunuh ragu ini sampai mati,

malam ini..
dalam mimpimu,
izinkan aku memelukmu dan menikam masa lalu dibalik punggungmu dengan pisau egoku..

Friday, October 28

Jangan perintah Aku................

Di danau itu, aku bersihkan telapak kaki-ku yang berlumur darah, yang keluar dari kulit tipis, yang sempat terseret di setapak jalan tadi yang biasa ku lalui..
Seksama dan hati-hati aku cabut beling kecil yang bermain-main diantara ibu jari dan telunjuk kaki, sesekali kutemui juga mereka di tumit dan mata kaki..
Pohon-pohon tua disekelilingku sejenak menatap iba, seperti hari-hari sebelumnya, aku tersenyum, mereka kembali bercanda dan berlalu..

Kamu tau? Aku tidak peduli, sekalipun kaki-kaki ini Tuhan ciptakan, memang ditakdirkan berjalan, di atas pecahan kaca-kaca kerinduan..
Sayang, Aku tidak pernah mengeluhkan, rasa sakit yang tertahan di ujung-ujung bibir, tidak juga pernah menghitung, berapa bongkahan air mata yang mengkristal, menahan jerit kesakitan ketika ranting pohon bersekutu angin, menghujaniku sepi dan kebencian..

Sayang, Aku benar-benar tidak peduli..

Lalu datang waktu,

Aku dan Kamu berdansa, bercumbu mesra, ditengah mereka yang menatap iri kita.
Wajah kesal mereka, ketika bibirmu bersimpuh di wajahku, ketika bola mataku dijamahi dengan pandangan cintaMu, kita benar-benar bertemu, di otak-Ku.

Satu pintaku, Jangan pernah perintah Aku berhenti, merindukan Kamu...


Aku,
yang hampir mati dibunuh rindu
***

Thursday, October 27

Pura-pura tidak rindu, aku dilupakan waktu. Pura-pura tidak cinta, aku jadi gila.....

-dira rizkia-

Tuesday, October 25

Jika aku........

Jangan tanya apa yang ada di hati
Tidakkah Kamu lihat tiang-tiang itu
Ego-ku sudah tergantung di sana tinggi-tinggi...

Jangan tanya seperti apa cinta untuk Mu
Tidakkah Kamu lihat kotak gengsi ini yang aku beli dengan harga mati
Hati-Ku sudah tersimpan disana lebih dulu...
*

Jika aku tak sempat berkata, bukannya aku tak cinta..
Aku hanya tidak ingin Kamu tahu, Aku yang sedang sibuk membunuh cemburu,
Yang mencoba membuatKu buta dan dungu...

Jika Aku belum kembali, bukannya Aku sembunyi dan tidak peduli..
Aku hanya tidak ingin Kamu menemani, Aku yang sedang mencari peti mati,
dan ingin mengubur seribu ragu yang menyerang jiwaku ketika sepi...
*

Kini..
Ketika Ego tak lagi tergantung atas tiang-tiang tinggi
Ketika alam sudah menghukumKu dengan rindu bertubi-tubi..
Jika Aku meminta, akankah Kamu penuhi.........?
***

Sunday, October 23

Lelaki ini, Aku cinta mati

Dia sedang memelukku dan tersenyum. Untuk kesekian kalinya aku pandangi gambar kami di foto itu. Bahagia. Sempurna. Aku menjadi benar-benar perempuan dibuatnya. Ya.. memang aku cinta. Kepada dia aku terlalu memuja. Sampai rasanya tidak cukup hanya dikatakan cinta. Untuknya, ini lebih dari cinta...

Kemudian aku tersenyum.
Bukan prasangka, memang aku yakin kami memiliki wajah yang sama.
Bukan juga cinta buta.
Yang menyihir setiap beda terlihat sama.
Aku tidak buta, ketika aku tertawa wajahku memang sangat dia...

Kembali aku masukan foto ukuran 4R itu ke dalam dompetku. Sudah terlalu lama aku duduk di tengah orang-orang berlalu. Aku berdiri dan segera ingin mengetuk pintu rumah. Tangan kananku membawa bungkusan. Tangan kiriku sibuk memainkan telepon genggam, membalas pesan yang sempat terabaikan.

"Dira..!!!!"

Samar-samar aku dengar namaku, seperti sengaja teriak untuk memecahkan konsentrasiku yang sedang sibuk untuk hal yang tak begitu perlu. Spontan membalikan badan, aku cari arah suara itu..

"Di sini... Disini.."
Ya, di depanku..
Di depanku, disitu mataku terpaku...

Tuhan Maha Sutradara..
Lelaki yang tidak sampai 10 menit yang lalu menerawangi fikiranku, kini ada di depan mataku. Kali ini dengan perempuan di sampingnya, aku lihat tangannya meremas mesra pergelangan tangannya sambil sesekali mereka bertatapan mesra dan bahagia..
Layaknya 2 anak manusia yg memang diciptakan untuk selamanya...

1 langkah.. 2 langkah..
Kami saling mendekat, aku mencoba biasa, mimik wajahku pastinya. Menyembunyikan perasaanku yang saat itu sangat luar biasa.
Sambil menata kata-kata, tidak kuasa menahan sangat ingin memeluknya.
Wajahnya sekarang tepat di depanku.. Aku cium pipinya..
"SELAMAT ULANG TAHUN AYAH.."

Kepada perempuan disampingnya aku cium tangannya lalu aku cium perutnya, tempat dimana 9 bulan aku pernah tinggal di sana..

 ===============
Di ruang persalinan, "Alhamdulillah.. selamat Bu, anaknya laki-laki..", 52 tahun yang lalu
Hari ini bayi laki-laki itu aku panggil Ayah.
Selamat Ulang tahun, Yah :) 

********

Saturday, October 22

Yasudahlah..

Mencubit kamu dan mengeluarkannya dari otakku itu bukan pekerjaan yang gampang. Entah berapa banyak motivasi yang aku kumpulkan hari demi hari cuma untuk membersihkan setiap lekukan rongga otakku dari nama kamu.

Bagaimana tidak, kalau dulu kamu yang selalu ada buat aku, dan sengaja menaruh candu. Lagi-lagi atas nama masa depan. Aku harus mengorbankan semua yang aku cintai dan berjuang banting tulang untuk mengumpulkan energi berulang-ulang agar bisa melempar kamu jauh-jauh dan setelah itu berjuang lagi untuk membangun dinding penghalang tinggi-tinggi karena cemas akan gaya gravitasi otakku yang suatu waktu menarik kamu lagi suatu waktu.

Hari ini sudah hampir masuk bulan ke-5. Bahagia. Usaha berjalan sempurna, sampai-sampai aku curiga mungkin ada sistem lain yang tumbuh di otakku yang mengambil alih perintah sampai rasanya semudah itu aku meninggalkan kamu jauh dibelakang.

Dalam hitungannya seharusnya hari ini masih hari pertama memasuki bulan ke-5..
.aku.tanpa.kamu.

Malamnya aku pergi dengan salah satu kerabat lama. Seperti biasa melakukan hal-hal yang sama, membicarakan kisah lama dan mengingat memori lama. "ooh iyaaa, lupa kan gue.. hari ini rencananya gue mau traktir, kedemenan elo banget nih tempatnye.." kata teman lamaku di tengah perjalan kami malam itu. Kami menambah kecepatan langkah kami dari sebelumnya.

Temanku memimpin di depan dan aku mengikuti dari belakang dengan langkah yang tidak kalah semangat dan diam-diam mencoba menebak-nebak, tempat seperti apa yang menurut temanku ini aku pasti suka, seyakin itu mukanya. Kemudian tidak jauh dari jarak 5 meter, aku melihat di depan kami ada kedai kecil dengan kanopi hijau tua beraksen klasik, sekilas rasanya seperti tidak asing, sekali lagi tidak asing.

Otakku mulai bekerja sangat keras untuk mengingat tempat itu sebelum temanku menyebutkannya, tapi sia-sia. Disaat bersamaan jantungku bertingkah seperti makhluk asing yang tidak pernah aku kenal, aku kesal, karena sebenarnya dari tadi aku dan otakku bekerjasama mengirimkan sinyal ke jantung "Woyyy tung, santai dong...!!!!" tapi tidak juga direspon. Seperti tuli atau entah tidak peduli. Alhasil jantungku semakin sesuka hati berdetak semaunya.

Kemudian kami masuk. Jantungku makin bertingkah, kali ini rasanya hampir-hampir dia seperti memberontak ingin keluar dari dadaku dan berlari kesana-kemari. Seketika mataku kosong, sangat-sangat bisa dipastikan wajahku saat itu adalah wajah dengan mimik seorang perempuan yang tidak pernah diharapkan oleh seorang photografer yang sedang ambisi dengan proyek terbarunya untuk cover majalah wanita dewasa.

Seketika aku lemas dan pasrah.. "Taraaaa... eh kok bengong lo? ini kedai kopi tempat kita nongkrong dulu tiap hari cuuuy, sekarang bangunannya sedikit direnovasi, terus pindah 2 gang dari tempat yang dulu.. ni hari gue yang traktir dah, dulu pan ampe 8 kali sehari lo ngopi, sekarang 10 kali gue yang bayarrrrr...hahaha"

Hening.. 
.KOPI.
Nama itu kembali merangsang otakku.

Yasudahlah..
Paling tidak (sempat) berhasil (walau hanya dalam) 4 Bulan.


**************************

Thursday, October 20

Yang Tertinggal


Aku berlari sangat cepat, meninggalkan ego yang selama ini mengurungku atas nama cinta.
Lepas. Bahkan aku melihat burung merpati sempat melirik iri kepadaku sebelum mengepakan sayapnya.
Bahagia dan Muda. Dan ingin seperti itu selamanya.

Sampai pada saat aku dihantui rindu, aku yg berlari cepat, malam itu mulai berjalan lambat.
Kulihat tujuanku di depan tiba-tiba lenyap berubah gelap menjadi pekat.
Aku semakin lambat.
Aku sempat menoleh kebelakang. Bimbang.
Jika kembali, aku tidak akan sanggup melawan waktu dan serdadu-serdadu perangnya yang selalu siap setiap waktu menyerang bagi siapa saja mereka yang ingin kembali ke belakang.

Aku ingin Tuhan, tiba-tiba..
Ragaku tetap jalan dan lambat. Otakku mulai digerayangi setan.
Kata mereka ada benjolan kecil di otakku yang perlahan tapi pasti akan melumpuhkan rasa semangat dan mematikan gairah kesenangan.

Kembali aku ingin Tuhan, Dia Yang Maha Menciptakan kenangan.
Aku masih berjalan, pelan dan hanya ingin hilang ingatan.
Dalam perjalanan, entah berapa tatapan kasihan yang aku tidak pedulikan.
Beberapa ada yg bernasib sama, Beberapa tertawa.

Ada ribuan kata yang hampir-hampir memuncah yang aku ingin katakan dan tertahan.
Dalam karangan, di bait pertama aku tuliskan..


"Kepada kenangan, manusia memiliki masing-masing rindu yang terlarang....."